Senin, 10 November 2014

HELLO


                                                                                       
Neta kira dirinya bisa melewati hari ini tanpa terkagum-kagum. Tapi bahkan meski telah lebih dari tiga ratus enam puluh lima hari sejak pertama kali melihat dia, Neta masih saja ikut terpesona. Untungnya tidak seperti gadis-gadis  yang tak jauh darinya, Neta dapat mencegah mulutnya ikut berteriak histeris agar dapat perhatian.
Pesona yang membekukanlah yang langsung menimpa Neta. Ia tidak dapat mengalihkan pandangan. Tak sadar sampai tiba-tiba dirasanya sesuatu membentur bahunya keras. Atau lebih tepatnya seseorang yang membenturnya.
“ Ati - ati donk.” Bentak gadis yang tadi menabrak Neta.
Neta menundukkan muka, setengah menahan sakit. “ Maaf, ”katanya lirih.
“ Makanya tuh mata jangan digunain buat baca doank.”jawab gadis itu sinis.
Neta mengangguk.
“ Atau karena kebanyakan baca tuh mata jadi mines kali.”timpal gadis lain.
“ Yah, mau nyamain guru favoritnya kali. Si Pak Nyoman.”kata gadis yang tadi menabrak Neta. “ Ya kan, Reneta?”
“ Nilai aja bagus yang lainnya mah standart, atau malah tiarap.” ejek si gadis lagi.
Neta hanya makin menundukan wajah. Ia tidak tahu menjawab apa.
Tahu-tahu seseoranng telah menarik  tangannya, mengenggam erat dan menarik Neta mejauh sekitar dua meter dari dua gadis yang memandang tak suka. Kalau  pandangan bisa membunuh mungkin pandangan seperti itulah yanng dimaksud. Lika tidak mengendurkan pegangannya. Neta menghembuskan napas lega.
“ Yah, pangerannya udah terlanjur lewat kan! Gara-gara elo nih, Ta. ”protes Lika kecewa, tidak lagi berjinjit atau melompat.
Tadi mereka memang jadi dapat tempat yang enggak enak untuk memandang. Dibagian barat yang lagi panas-panasnya kena matahari, udah begitu dibelakang pula. Alhasil cuma sekilas, itu pun sekelibat bayangan dan bagian rambut pangeran yang hari ini bergaya spike. Wajah pangeran tampan tak sama sekali terlihat gara-gara siswi di depan yang seperti tembok. Kalau mau maksa nyempil akhirnya malah bisa-bisa jadi korban. Badan Lika bisa-bisa tidak dapat ditarik dan nyempil di sana sampai bubar.
 “ Maaf .... ”ucap Neta lirih.
“ Harus!”sahut Lika setengah berteriak.
Beberapa sisiwi langsung melirik mereka terganggu. Senyum Lika terkembang tanda permintaan maaf. Lalu Ia kembali menarik Neta ke sudut, merapat ke tembok menjauh dari tembok manusia yang mulai berkurang. Malah sekarang hanya beberapa yang masih ada.
 “Makanya buat hukuman loe harus nemenin gue,”ujar Lika berbisik.“Entar pulang sekolah kita stalker pangeran yuk! Sttt,,, katanya dia hari ini mau nongkrong di caffe deket sini. Itu,,, tuh,,, yang di ujung gang sono. ”omel Lika setengah memaksa.
“ Tapi, gue ada les, Li. ”protes Neta cepat.
“ Bolos sekali aja. Sekali ini kok, Ta. Please! Gak akan bikin hidup loe ancur ampe jungkir balik. ”paksa Lika. Lalu pasang tampang memelas ala pus in boot.
“ Nilai fisika gue yang jungkir balik jadi enam.”kata Neta setengah menahan tawa. Karena sahabatnya itu punya mata, yang besar jadi bukanya tampak lucu yang ada malah tampak melotot pada Neta.
“ Pangeran sama fisika pentingan pangeran, Ta.”kata Lika agak kesal.
Neta baisa saja dapat nilai delapan dalam ulangan fisika tanpa les. Dibanding dirinya yang sempat nekat membakar kertas catatan fisika ditengah malam buta, lalu dilarutkan dalam air minum pun nilai Neta masih lebih bagus. Masih kurang saja?
“ Hubungannya apaan?”tanya Neta tidak mengerti
“Pinter-pinter o’on nih anak,”ejek Lika sambil memutar bola mata, “Ini soal rasa, R-A-S-A. Kita harus perjuangin rasa kita buat pangeran. Lha, dalam perjuangan ini kita harus lakuin serangan fajar. Bukannya diem dan cuma liat dari jauh.”lanjutnya seolah menerangkan pada anak sekolah dasar.
Neta tersenyum. “ Kayak mau perang aja, Li.”
“ Ini emang perang,”seru Lika sembari mengguncang bahu Neta. “Kalo gak pake serangan fajar dan serentak kesempatan gak akan keraih. Dan akhirnya hilang gitu aja.”
“ Kesempatan apa sih?”tanya Neta mencoba mengerti maksud teman sebangkunya ini.
“ Kesempatan deket sama pangeran. Selama ini kita cuma bisa ngelihat. Udah segitu doank. Gak ada kemajuan yang ada malah kemunduran,”keluh lika sambil menarik napas. “Jadi kita harus bikin kesempatan itu.”
“ Kita? Loe doang kali”protes Neta tegas.
Kalo bukan karena Lika dari awal Neta memilih duduk di bangkunya yang nyaman. Tak perlu berdesakan terdorong ke sana ke mari cuma untuk melihat seseorang. Selain itu juga tidak perlu berlarian saat si panngeran itu lewat depan gerbang sedang kelasnya ada di sudut lain yang butuh ditempuh dengan jurus kaki seribu.
Yang diprotes malah tidak perduli.
“ Kesempatan itu jangan ditunggu aja. Kita harus usaha buat dapetin, bahkan setidaknya bikin sedikit kesempatan itu ada. Eh, tumben gue kayak pemberi semangat gitu. Apa bahasa inggrisnya?”kata Lika bersemangat.
“ Motifator.”jawab Neta masih melihat ke gerbang.
“ Ya,,,ya,,,ya,,, seenggaknya kita lebih maju dibanding tuh cewek-cewek. Bisa deh dapetin pangeran.”
“ Bukannya pangeran sama Lady ya?”tanya Neta setelah melihat seorag gadis yang sekarang menajdi pusat perhatian di gerbang.
Meski dari jauh Neta bisa melihat beberapa siswa mencoba menggoda gadis itu. Si gadis hanya tersenyum sambil sesekali menyapa. Di belakangnya tiga orang gadis lain mengikuti tak kalah anggun. Benar-benar tampak seperti barisan dayang yanng tengah mengantar sang putri.
“ Nggak lagi, Ladynya aja tuh yang sering nempel pangeran.”cibir Lika
“ Cocok kok.” Kata Neta langsung dibalas pelototan mata Lika.
“ Issssh,,, loe saking kecewanya sampe ikut dukung Lady ya?” protes Lika. “Lady itu gak ada hubungan sama pangeran. Emang sih mereka udah temenan dari SMP, tapi ya gitu doang cuma ngobrol, hang out, dan enggak sampe nge-date.” jelasnya kemudian.
“ Oh ya?”
“ Menurut info yang gue dapet, dari dulu pangeran itu emang gak pernah pacaran. Pangeran itu sulit banget di deketin.”beber Lika ala detektif.
“Masa?”
“Loe tau sendiri, penghalang pertama tembok manusia yang bejubel itu terus bertambah tiap hari. Cewek-cewek itu bisa lebih galak daripada herder, gak perduli temen atau bukan bisa diserang. Terus ngelewatin tembok manusia juga belum dibilang hebat. Itu mah levelnya masih cetek. Abis cewek-cewek itu ada body guardnya eh, itu tuh si Bangga sama Alde. Dua cowok itu ujian yang emmm, dibilang sulit tapi juga mempesona. Intinya mereka baru level siaga. Setelah dua cowok itu baru yang namanya level bencana,”kata Lika dengan tampang horor. “Tuh tiga dayang Lady emang cantik tapi sadisnya minta ampun. Gak bisa selamet ngelewatin gerbang. ”
“ Dayang sadis? Elok, Hany sama Ane? Terus ngapain loe tetep nekat?”
“ Yuppy. Neta sayang, cinta itu harus diperjuangin. Ladynya aja sportif kok, dayang-dayangnya aja yang lebay. Saking gak punya harapan kali ya? Mereka kan sebelumnya juga fans Pangeran.”Duga Lika.
“ Kok bisa jadi temen Lady?”
“ Jadi ya, mereka dulu itu juga masuk barisan tembok manusianya pangeran. Malah selalu yang terdepan. Lha, sejak Lady temenan sama mereka, baru mereka bisa deket sama pangeran. Tapi, ya seperti gue bilang sebelumnya pangeran itu gak perduli alias cuek. Kecewa jadi deh ngelampiasin sama yang lain, kecuali sama Lady. Soalnya Lady baik sama mereka.”
“ Lady baik banget yah.”
“ Ya sih, dia masih bantu yang lain juga meski keliatan banget kalo suka sama Pangeran. Ah bodo amat. Kita harus perjuangin pokoknya. It’s fair play.”
“ Loe aja sana. Gue ada les.”tolak Neta
TENG.... TONG....TING....TING.....TEEETT....
Deru bel mengema membuat barisan yang tadi seperti semut bubar seketika. Tidak kecuali Neta yang juga bergerak turun melalui tangga meninggalkan Lika yang memasang wajah masam.
“ Ayo lah, Ta.” pinta Lika lagi. Masih mencoba membujuk Neta. Tetapi yang didapatinya hanya gelengan dari Neta. “ Please, Ta. Loe temen gue kan? Demi gue.”
Neta tidak menghiraukan permohonan Lika. Kali ini setengah berlari ia menolak. Tak tega tapi, mau bagai mana lagi jam pertama sebentar lagi. Di hari pertama pelajaran baru pula.
Kali ini Lika menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil. Kebiasaannya kalau sudah terlalu kesal. Neta sampai harus berbalik dan menyeret temannya itu. Sayangnya tubuh Neta yang mungil langsung terjelembab ke lantai kalah akan badan Lika yang memang agak besar. Lika menolak bergerak tadi mebuat Neta yang menariknya malah terpelanting karena yang menarik malah lebih kecil sedang yang ditarik malah balas menolak.
Rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya. Tangan kiri yang sempat digunakannya menopang diri malah terasa perih. Pantatnya yang tadi berdebam keras saat beradu dengan lantai nyeri sekali. Tapi semua itu langsung teralih saat dilihatnya telapak tangan yang terulur tepat di muka.
Tangan itu meraih tangan kanan Neta yang bebas. Kemudian perlahan menarik Neta banngun. Membuat Neta sejajar dengan penolongnya. Terlebih si penolong malah menariknya masuk dalam dekapan. Hangat, penuh perlindungan dan juga lembut itu lah yang Neta rasa sejenak.
Dua manik mata menatap Neta tampak khawatir. Seolah takut jatuh tadi berakibat fatal. Seulas senyum terkembang tampak lega. Senyum yang membentuk lesung pipi di wajah itu menambah pesona sang pemilik. Neta langsung melangkah mundur menjauh. Sedikit terhuyung nyaris jatuh, untung lagi-lagi penolong itu memegangi tubuh Neta.
“ Gak apa-apa kan, Ta? Mana yang sakit?”suara Lika berseru tertahan, merasa bersalah. Ia tadi juga terhuyung tapi tak sampai terjatuh. “ Eh, ma,,,,” ucapannya urung selesai menyadari siapa cowok yang menolong Neta, tadi karena begitu cepatnya si penolong langsung menghambur menuju Neta ia tak tahu bagaimana rupanya.
Lika membeku seketika. Matanya yang belo melotot seolah bisa keluar dari tempatnya. Seperti semua yang juga berada di sekitar mereka. Saking terkejutnya, tidak ada yang bicara bahkan malah menahan napas.
“Hello !”sapa si penolong itu riang. Neta terlonjak tak percaya.
Gadis itu mundur perlahan, menjauh sebisanya. Sosok itu masih di depannya. Tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih bersih yang rapi. Manik mata tajam berwarna coklat yang dinaungi alis mata tebal hitam yang kontras dengan wajahnya yang putih bersih. Tampan, ajektif itu langsung terpikir seketika. Apalagi senyum mengembang yang sekarang melekat pada wajah itu menambah keindahannya.
“Hello, Neta!”sapanya lagi.
Neta diam, si penolong masih menunggu jawaban. Kali ini tak hanya memberi senyuman, malah menaik turunkan alis seolah menggoda.
“ Hello, pangeran.”jawab Lika tanpa sadar.
****

“ Apa?”
Neta tidak tahan dilihat tanpa berkedip oleh dua bola mata belo teman disebelahnya. Sementara Lika yang ditanya malah makin mengamati tanpa henti. Dari ujung kepala ke ujung kaki dilihatnya bolak balik. Membuat Neta juga ikut mencoba mengamati diri sendiri. Baju seragam, masih putih bersih rapi karena telah disetrika. Roknya juga masih abu-abu. Sampai pandangan keduanya bertemu, Neta minta penjelsan setengah kesal. Sedang Lika mengeleng kemudian menghembusakan napas berat.
“ Kenapa?”tanya Neta makin bingung.
“ Gue tuh yang harusnya nanya gitu?”kata Lika enggak nyambung. Malah kembali mentapp Neta.
“ Ehhh,,, lho?”
“ Kenapa sih loe, Ta?”
“ Gue? Kok gue? ”
“ Iya, loe itu kenapa? Kenapa tadi ngabur gitu aja? Udah gitu narik gue seenaknya lagi.” Protes Lika
Neta cuma bisa meringis, menujukkan gigi putih yang rapi. Tak tahu harus bagai mana. Kalau dijawab dan jawabannya tak sesuai harapan Lika, bisa-bisa sahabatnya itu melumatnya. Mau dalam kelas, mau di lorong, atau dimana pun juga Lika tak perduli. Lika kembali mendesah benar-benar tak habis pikir.
Apa sih yang ada di dalam otak sahabatnya ini? Atau apa sih yang menghilangkan kepandaiannya? Mana ada cewek yang langsung kabur setelah ditolong pangeran. Mana ada cewek yang malah lari secepat kilat seolah habis melihat setan alih-alih sebenarnya cowok paling cakep seantero SMA Nusantara.
Kalo bukan gara-gara Neta, Lika kan bisa menikmati melihat pangeran dari dekat. Jarang-jarang, bahkan ini seperti mukjizat dari tuhan. Biasanya cuman bayangan sekelibat yang dapat ditangkap mata Lika.  
“ Kan udah masuk.”jawab Neta masih mengembangkan senyum.
“ Ihh, nyia-nyiain kesempatan tahu. Udah tahu susah ngedeketin si pangeran minta ampun. Malah ngabur. ”omel Lika.
“ Pelajaran pertama kan Bu Titah, Li. Mau disuruh nutup pintu dari luar? Gue mah ogah.”bantah Neta  berlindung di balik buku.
“ Pelajaran- pelajaran mulu, kan gue udah bilang pentingan pangeran Ta,”kata Lika sambil menarik buku di depan wajah Neta. “ Pelajaran itu bisa diulang, lha pangeran mana bisa.”
“ Kita udah kelas sebelas Li. Bentar lagi kelas duabelas. Apa loe mau ngulang pelajaran-pelajaran yang bahkan kalo ada gurunya juga kadang gak paham.”
“ Iya, iya, iya. Susah deh ngobrol sama orang gila belajar kayak loe. Seneng amat sih sama belajar. Si Amat aja kagak.”
“ Karena Amat senengnya sama loe.”
Mata lika yang sebelumnya mengemati Neta langsung beralih ke sudut ruang kelas. Di sana seorang cowok tengah melakukan pembersihan diri, alias megulik-ulik lubang hidung lalu seenaknya saja di lempar ke udara. Membuat Lika langsung mengeleng-geleng dan reflek memegangi hidungnya. Si Amat ynag sepertinya sadar diamati mengembangkan senyum lebar, lalu melemparkan cium jauh. Lika mual seketika.
 Neta menghela napas lega. Tidak lagi dipandang terang-terangan meski ia tahu beberapa mata juga menatapnya penuh tanya. Cuma Lika yang berani atau lebih tepatnya cuma Lika yang punya kesempatan bertanya. Karena cuma Lika yang dekat dengannya.
Neta jadi tak perlu mengarang cerita. Ataupun menceritakan kenapa, karena tidak akan ada yang percaya pula. Tidak perlu pura-pura menerka juga karena dia tahu. Dia tahu pasti kenapa. Kenapa pangeran menolongnya?
****

ngegajeeeee

hello,,,
setelah lama gak ngepos. aku malah masih ngisi dengan pos gaje. maaf

seprti kata seorang penulis terkenal yang pernah bilang kebanyakan blog itu isinya diarydiare, alias cerita yang ditulis oleh penulisnya tentang dirinya yang kadang kagak penting seperti yang satu ini.
Maaf, sekali agi karena membuat yang baca, yang nyasar maupun yang gak sengaja nemu blog satu ini jadi ngebaca kegajeanku. Heeheeheeheeeheehehee

Karena aku itu sepecies makhluk aneh, yah gak bisa disamain sama kugi karmahamelion yang meski aneh tapi bisa bikin agen aquarius dan juragan bulog macam Remigius kepinut. (Upsh, salpok-salah pokus- dah saya).
api emang saking anehnya sahabat selalu geleng kepala liat kelakuanku.

Eittt,,, ini bukan tentang keanehanku

kali ini aku mau ngegaje soal r-a-s-a.

Rasa itu bisa nyiksa, padahal punya sendiri ternyata juga nyakitin hati sendiri. Padahal rasa itu tidak pernah diminta kedatangannya. Begitu saja muncul tanpa permisi. Lalu membekas hingga tiada lepas.

Jujur baru dua kali ngerasain yang bener-bener sampai sakit.

Yang pertama butuh lebih dari sepuluh tahun buat lupa, meski bukannya lupa. Lebih tepatnya adalah tidak mengingat. Karena kenangan akan Dia adalah sebagian kenangan indah yang aku punya dan simpan. SImpan sendiri. Agar tidak menyakitinya juga diri sendiri.

Yang kedua, orang itu datang dengan mata yang melihatku seolah hanya menyapaku. Dan kali itu aku tanpa sadar jatuh hati. Aku menyangkal dan terus menyangkal, sampai ia menjauh. membuatku rindu.

Hanyaa pada kenyataannya ia hanya datang untuk melupakan seseorang yang ia cintai. Cintanya hanya pada gadis itu. Ia tahu rasaku, dan tak dapat membalas. Sedang aku sudah jatuh hati sampai hati itu tidak lagi utuh.

Kali ini aku takut, jatuh cinta juga jatuh hati.

Rabu, 23 Juli 2014

Sampai Lebaran

Hari ini hari ke-5 sebelum lebaran.
Setahun lalu dihari ini aku masih dirundung mendung. Aku ingat hari itu aku masih mencoba menerima. Karena memang hanya itu yang harus dilakukan. Meski rasanya sulit sekali. Toh, waktu terus berjalan. Jarum jam berputar, detik demi detik berganti menjadi menit lalu jam.

Aku ingat betul lima hari sebelum hari itu, aku masih dibangunkan untuk bersahur. Masih berlomba dengan matahari sahabis shalat. Tapi malamku tidak sama seperti hari-hari yang lain.

Malam itu malam yang dingin sekaligus perih.

 Aku mendapati tubuh kaku dihadapanku. Setelah disorientasi karena masih tidak mengerti kenapa orang-orang disekitarku tampak panik dan terkejut. Setengah sadar dari tidur aku mencoba mengerti. Ketakutanku menjelma jadi nyata.

" Sampai lebaran ya, Pak?"pintaku sembari berbaring di sebelahnya.
Pria tua itu mengeleng kan kepala kuat-kuat. Namun kemudian mengganguk sebelum sempat aku menyuarakan protes.
" Aku itu besok lusa udah libur, jadi bisa nemenin bapak."kataku lagi.
Beliau diam.

Tapi, apa mau dinyana. Sepuluh hari sebelum lebaran Bapak malah pergi. Beliau pulang kehadirat Allah S.W.T. Tidak lagi menunggu sampai lebaran seperti pintaku.

Hari itu bapak memang tidak banyak bicara. Tidak seperti sebelum-sebelumnya bapak tidak memarahiku saat aku nakal. Bapak tidak berteriak mengingatkanku kalau aku sudah keterlaluan. Beliau hanya sempat menenangkanku saat kesal dan sedih.

Beliau itu meski galaknya bukan main padaku tapi juga sayang padaku. Beliau menjagaku saat aku keccil ditinggal ibu bertugas. Beliau menggambilkan makan ketika aku mencarinya sampai sawah saat pulang sekolah. Beliau selalu menungguku di pos kamling depan rumah sampai senja datang saat aku pulang terlambat.

Beliau ayahku yang sederhana.

Yang menghabiskan hampir setahun hidupnya diranjang dengan berbaring. Namun masih berusaha menjalankan ibadahnya. Beliau yang sempat tertawa meski sakit karena jatuh. Beliau yang jadi alasanku cepat pulang. Beliau yang menjadi alasanku bertahan seberat apapun.

Beliau yang pergi tanpa sempat aku beri.

Dipenghujung hari aku mengantarnya sampai mesjid, tak berani ke pembaringan. Karena sempat ku harap itu hanya mimpi. Dan beliau hanya sekedar tertidur.

Tapi kenyataan tiada dapat ditolak.

Kini tiada lagi ayah yang mengantar aku pergi meski beliau harus merangkak atau lebih tepatnya mengesot. Ayah tidak lagi akan berkata ' Sudah pulang?' setelah menjawab salamku.

Kehilangan ini meski menyakitkan namun melegakan. Beliau tidak lagi kesakitan. Dan telah tenang di sana.




Selasa, 22 Juli 2014

Hello!

Namaku Hoshino Nami. Sebenernya nama ini enggak cocok sama sekali dengan aku. Heheheheheh
Bisa dibilang jauh banget!! Kalo orang jepang atau kamu, kalian yang tahu artinya pasti mengganggap aku ini tinggi seperti ombak atau bintang ( Nami berarti ombak dalam bahasa jepang sedang Hoshi berarti bintang). Tapi, aku ini pada kenyataanya tidak begitu. Em, apa ya?? Kalo aku sih menyebutnya kurang tinggi, tapi kebanyakan orang bilang aku ini p-e-d-e-k. Umm, gak masalah sebenernya. Cuman kalo kamu berada dalam lingkunganku yang kebanyakan orang standart tingginya ala model gitu, aku ini masuk dalam golongan Hobitt. Ya, sejenis lah sama kurcacinya Cinderella.

* Nangis dipojokan

Tapi bukan karena itu aku diberi nama Nami oleh si Omm. Yuph, Nami atau Hoshino itu bukan nama dalam akte lahirku, melainkan nama yang diberi sama Omm- a.k sahabatku. (Makasih Lho)

Sebenernya sempet langsung melotot ala sinetron jadul yang efeknya itu zoom-in zoom out. Cuma, emang aku yang minta dia nyariin nama jepang buat aku. Dan jadilah, Hoshino Nami.

Alasannya, bukan karena aku kurang tinggi dan biar nambah tinggi di kasih nama itu. Melainkan karena waktu itu aku ngelaang temenku yang lain pergi dengan ngunci dia ala smacdown. Kemudian temenku yang padahal badannya lebih besardari aku itu menyerah. YEAY!!! I'M THE WINER

*ketawajahat. HWAHAHAHAHAHA

Dan akhirnya si Omm memutuskan namaku. Sebab aku tuh kayak ombak yang meski kecil terus ngegulung ke pantai dan mengigikis karang yang lebih besar dan tampak kuat.

Horeeeeeeeee.

So, bagaimanapun kita pasti ada hal yang baik meski kelihatannya gak mungkin. Semua hal dapat terjadi kan?? Aku bukannya p-e-n-d-e-k tapi cuman kurang tinggi, tetep ada kata tingginya lhoo. ^^

Aku dan Kamu





Jangan,,,jangan lihat aku begitu!!! Hei, aku belum mati tahu. Kenapa pula kau disini? Pasti Vrea. Anak itu harus di beri pelajaran, mana dia? Mana anak itu?!!Sial!! Apa kenapa dengan ku. Hei berhenti tertawa. Vrea pasti kuhajar setelah ini. Liat aja, aku mau marah. 
 
Ya, aku bisa tahu seperti saat itu saat dia berkata padaku “Meski kau kurung burung itu dalam sangkar emas sekalipun, ia tetapkan terbang juga.Tapi dia bisa merentangkan sayap ke sana ke mari bukan?”

Percakapan setahun lalu itu kembali terputar dalam memory otakku. Kata demi kata terus terngiang di telinga. Entah apa Vrea mempunyai guna-guna yang membuatnya begitu,atau hanya pikiranku yang terlalu keras memikirkan kalimat itu. Pertengkaran kami juga telah usai. Memang butuh waktu sekian lama sampai dia benar-benar pasrah. Membiarkanku dengan keteguhanku. Padahal sebelumnya tak pernah begitu. Kami bahkan tak pernah sampai berpisah. Kami sangat dekat, seperti saudara. Kalau dipikir-pikir pertengkaran itu sepele. Sebuah pertengkaran yang harusnya tak terjadi. Pertengkaran karena sahabatku tidak mau aku terluka.

Aku memang tak pernah terluka. Bahkan sangat bahagia. Dia bukanlah ibu atau ayahku yang dapat mengaturku semaunya. Benar-benar membuatku kesal setengah hidup karenanya!! Sampai beberapa kata tak pantas terucap dari mulut ini. Membuatnya tertunduk lesu,kemudian meninggalkanku dalam diam. Untung itu telah berlalu. Kau mau tahu tidak? Pertengkaran itu kenapa? Itu karena mu. Iya kamu. Kamulah penyebabnya. Lebih tepatnya karena aku terus menerus mengikutimu. Memujamu meski kau tak perduli. Meski hanya sebuah senyum tanpa arti yang kau beri.

Ia lelah sepertinya. Lelah melihat tingkahku yang berubah manja di hadapan mu. Mendengar bibirku tanpa henti memuji dan menyebut namamu. Seperti radio rusak yang terus menerus memutar lagu yang sama tanpa akhir. Karena aku juga tak ingin berhenti memanggilmu. Katanya aku seperti orang gila saja. Betapa tidak, ketika tak ku temukan sosokmu aku terus mencari ke sana ke mari.

Lalu saat menemukan kau, tiada luntur senyum mengembang di wajahku. Ya, aku telah gila. Gila karenamu. Tergila-gila tepatnya. Entah sejak kapan bermula sampai begitu parah aku pun tidak tahu. Yang ku tahu, kegilaan itu semakin menjadi. Berkembang dari hari ke hari. Membuatku asing di mata Vrea. Mengubah setiap centi dari diri ku sendiri. Menjadikan aku bukan sebagai pribadiku. Mati-matian belajar hanya untuk masuk dalam fakultas yang sama denganmu. Fakultas yang sebenarnya jauh dari kemampuan otakku. Lalu setelahnya menghujanimu dengan segala pertanyaan. Pertanyaan yang ku jadikan alasan untuk lebi dekat dengan mu. Dan saat ku rasa semakin dapat meraih mu. Ternyata tak begitu, tidak membuat mu melihatku barang sekilas.

Dirimu lebih memilih ia. Seorang yang kau temui dalam perjalanan mu. Seorang gadis baik yang dapat langsung membuatmu memilihnya. Dan melupakanku yang masih menantimu. Seorang yang lebih dulu ada di hadapan mu.

Seketika ku sadari aku tlah salah. Aku telah bersalah pada sahabatku. Karena vrea mulai benar. Aku terluka, luka yang begitu dalam. Terluka karena keputusanmu. Dapat kurasakan rasaku menyiksa diri ini. Akan fikiranku yang tidak ingin melepasmu dari anganku. Angan yang telah membuai ku lenyap seketika. Harapan musnah begitu saja. Tumpah bersama air mata yang tak dapat ku bendung. Aku terhempas dalam sendiri. Kembali pada obat-obat yang dari kelahiran ku sampai kini menopangku. Menambah waktu hidup ku barang sedetik. Kau pasti tak sadar bukan?

Aku sakit, sakit yang mengharuskan ku setiap bulan menuju rumah sakit. Setiap jam-jam tertentu mengkonsumsi obat itu. Atau menghabiskan seluruh waktu liburan hanya untuk melakukan beberapa tes. Aku lelah,lelah akan semua itu. Sampai ku dapati engkau. Engkau yang waktu lalu menjadi alasanku tuk menambah umurku meski hanya sehari. Menjalani semua agar cepat usai kemudian menemuimu.

Namun, semua telah berlalu. Tak dapat lagi ku ulang. Semua telah usai.
Tak pantaskah si penyakitan ini di sisi mu? Merasakan pula dicintai oleh mu. Mendapat hatimu pun tak mampu ku raih. Sampai dalam pembaringan terakhirpun kau tak pernah datang untukku. 

****

Hei this's my blog wellcome and let be friends!