Senin, 10 November 2014

HELLO


                                                                                       
Neta kira dirinya bisa melewati hari ini tanpa terkagum-kagum. Tapi bahkan meski telah lebih dari tiga ratus enam puluh lima hari sejak pertama kali melihat dia, Neta masih saja ikut terpesona. Untungnya tidak seperti gadis-gadis  yang tak jauh darinya, Neta dapat mencegah mulutnya ikut berteriak histeris agar dapat perhatian.
Pesona yang membekukanlah yang langsung menimpa Neta. Ia tidak dapat mengalihkan pandangan. Tak sadar sampai tiba-tiba dirasanya sesuatu membentur bahunya keras. Atau lebih tepatnya seseorang yang membenturnya.
“ Ati - ati donk.” Bentak gadis yang tadi menabrak Neta.
Neta menundukkan muka, setengah menahan sakit. “ Maaf, ”katanya lirih.
“ Makanya tuh mata jangan digunain buat baca doank.”jawab gadis itu sinis.
Neta mengangguk.
“ Atau karena kebanyakan baca tuh mata jadi mines kali.”timpal gadis lain.
“ Yah, mau nyamain guru favoritnya kali. Si Pak Nyoman.”kata gadis yang tadi menabrak Neta. “ Ya kan, Reneta?”
“ Nilai aja bagus yang lainnya mah standart, atau malah tiarap.” ejek si gadis lagi.
Neta hanya makin menundukan wajah. Ia tidak tahu menjawab apa.
Tahu-tahu seseoranng telah menarik  tangannya, mengenggam erat dan menarik Neta mejauh sekitar dua meter dari dua gadis yang memandang tak suka. Kalau  pandangan bisa membunuh mungkin pandangan seperti itulah yanng dimaksud. Lika tidak mengendurkan pegangannya. Neta menghembuskan napas lega.
“ Yah, pangerannya udah terlanjur lewat kan! Gara-gara elo nih, Ta. ”protes Lika kecewa, tidak lagi berjinjit atau melompat.
Tadi mereka memang jadi dapat tempat yang enggak enak untuk memandang. Dibagian barat yang lagi panas-panasnya kena matahari, udah begitu dibelakang pula. Alhasil cuma sekilas, itu pun sekelibat bayangan dan bagian rambut pangeran yang hari ini bergaya spike. Wajah pangeran tampan tak sama sekali terlihat gara-gara siswi di depan yang seperti tembok. Kalau mau maksa nyempil akhirnya malah bisa-bisa jadi korban. Badan Lika bisa-bisa tidak dapat ditarik dan nyempil di sana sampai bubar.
 “ Maaf .... ”ucap Neta lirih.
“ Harus!”sahut Lika setengah berteriak.
Beberapa sisiwi langsung melirik mereka terganggu. Senyum Lika terkembang tanda permintaan maaf. Lalu Ia kembali menarik Neta ke sudut, merapat ke tembok menjauh dari tembok manusia yang mulai berkurang. Malah sekarang hanya beberapa yang masih ada.
 “Makanya buat hukuman loe harus nemenin gue,”ujar Lika berbisik.“Entar pulang sekolah kita stalker pangeran yuk! Sttt,,, katanya dia hari ini mau nongkrong di caffe deket sini. Itu,,, tuh,,, yang di ujung gang sono. ”omel Lika setengah memaksa.
“ Tapi, gue ada les, Li. ”protes Neta cepat.
“ Bolos sekali aja. Sekali ini kok, Ta. Please! Gak akan bikin hidup loe ancur ampe jungkir balik. ”paksa Lika. Lalu pasang tampang memelas ala pus in boot.
“ Nilai fisika gue yang jungkir balik jadi enam.”kata Neta setengah menahan tawa. Karena sahabatnya itu punya mata, yang besar jadi bukanya tampak lucu yang ada malah tampak melotot pada Neta.
“ Pangeran sama fisika pentingan pangeran, Ta.”kata Lika agak kesal.
Neta baisa saja dapat nilai delapan dalam ulangan fisika tanpa les. Dibanding dirinya yang sempat nekat membakar kertas catatan fisika ditengah malam buta, lalu dilarutkan dalam air minum pun nilai Neta masih lebih bagus. Masih kurang saja?
“ Hubungannya apaan?”tanya Neta tidak mengerti
“Pinter-pinter o’on nih anak,”ejek Lika sambil memutar bola mata, “Ini soal rasa, R-A-S-A. Kita harus perjuangin rasa kita buat pangeran. Lha, dalam perjuangan ini kita harus lakuin serangan fajar. Bukannya diem dan cuma liat dari jauh.”lanjutnya seolah menerangkan pada anak sekolah dasar.
Neta tersenyum. “ Kayak mau perang aja, Li.”
“ Ini emang perang,”seru Lika sembari mengguncang bahu Neta. “Kalo gak pake serangan fajar dan serentak kesempatan gak akan keraih. Dan akhirnya hilang gitu aja.”
“ Kesempatan apa sih?”tanya Neta mencoba mengerti maksud teman sebangkunya ini.
“ Kesempatan deket sama pangeran. Selama ini kita cuma bisa ngelihat. Udah segitu doank. Gak ada kemajuan yang ada malah kemunduran,”keluh lika sambil menarik napas. “Jadi kita harus bikin kesempatan itu.”
“ Kita? Loe doang kali”protes Neta tegas.
Kalo bukan karena Lika dari awal Neta memilih duduk di bangkunya yang nyaman. Tak perlu berdesakan terdorong ke sana ke mari cuma untuk melihat seseorang. Selain itu juga tidak perlu berlarian saat si panngeran itu lewat depan gerbang sedang kelasnya ada di sudut lain yang butuh ditempuh dengan jurus kaki seribu.
Yang diprotes malah tidak perduli.
“ Kesempatan itu jangan ditunggu aja. Kita harus usaha buat dapetin, bahkan setidaknya bikin sedikit kesempatan itu ada. Eh, tumben gue kayak pemberi semangat gitu. Apa bahasa inggrisnya?”kata Lika bersemangat.
“ Motifator.”jawab Neta masih melihat ke gerbang.
“ Ya,,,ya,,,ya,,, seenggaknya kita lebih maju dibanding tuh cewek-cewek. Bisa deh dapetin pangeran.”
“ Bukannya pangeran sama Lady ya?”tanya Neta setelah melihat seorag gadis yang sekarang menajdi pusat perhatian di gerbang.
Meski dari jauh Neta bisa melihat beberapa siswa mencoba menggoda gadis itu. Si gadis hanya tersenyum sambil sesekali menyapa. Di belakangnya tiga orang gadis lain mengikuti tak kalah anggun. Benar-benar tampak seperti barisan dayang yanng tengah mengantar sang putri.
“ Nggak lagi, Ladynya aja tuh yang sering nempel pangeran.”cibir Lika
“ Cocok kok.” Kata Neta langsung dibalas pelototan mata Lika.
“ Issssh,,, loe saking kecewanya sampe ikut dukung Lady ya?” protes Lika. “Lady itu gak ada hubungan sama pangeran. Emang sih mereka udah temenan dari SMP, tapi ya gitu doang cuma ngobrol, hang out, dan enggak sampe nge-date.” jelasnya kemudian.
“ Oh ya?”
“ Menurut info yang gue dapet, dari dulu pangeran itu emang gak pernah pacaran. Pangeran itu sulit banget di deketin.”beber Lika ala detektif.
“Masa?”
“Loe tau sendiri, penghalang pertama tembok manusia yang bejubel itu terus bertambah tiap hari. Cewek-cewek itu bisa lebih galak daripada herder, gak perduli temen atau bukan bisa diserang. Terus ngelewatin tembok manusia juga belum dibilang hebat. Itu mah levelnya masih cetek. Abis cewek-cewek itu ada body guardnya eh, itu tuh si Bangga sama Alde. Dua cowok itu ujian yang emmm, dibilang sulit tapi juga mempesona. Intinya mereka baru level siaga. Setelah dua cowok itu baru yang namanya level bencana,”kata Lika dengan tampang horor. “Tuh tiga dayang Lady emang cantik tapi sadisnya minta ampun. Gak bisa selamet ngelewatin gerbang. ”
“ Dayang sadis? Elok, Hany sama Ane? Terus ngapain loe tetep nekat?”
“ Yuppy. Neta sayang, cinta itu harus diperjuangin. Ladynya aja sportif kok, dayang-dayangnya aja yang lebay. Saking gak punya harapan kali ya? Mereka kan sebelumnya juga fans Pangeran.”Duga Lika.
“ Kok bisa jadi temen Lady?”
“ Jadi ya, mereka dulu itu juga masuk barisan tembok manusianya pangeran. Malah selalu yang terdepan. Lha, sejak Lady temenan sama mereka, baru mereka bisa deket sama pangeran. Tapi, ya seperti gue bilang sebelumnya pangeran itu gak perduli alias cuek. Kecewa jadi deh ngelampiasin sama yang lain, kecuali sama Lady. Soalnya Lady baik sama mereka.”
“ Lady baik banget yah.”
“ Ya sih, dia masih bantu yang lain juga meski keliatan banget kalo suka sama Pangeran. Ah bodo amat. Kita harus perjuangin pokoknya. It’s fair play.”
“ Loe aja sana. Gue ada les.”tolak Neta
TENG.... TONG....TING....TING.....TEEETT....
Deru bel mengema membuat barisan yang tadi seperti semut bubar seketika. Tidak kecuali Neta yang juga bergerak turun melalui tangga meninggalkan Lika yang memasang wajah masam.
“ Ayo lah, Ta.” pinta Lika lagi. Masih mencoba membujuk Neta. Tetapi yang didapatinya hanya gelengan dari Neta. “ Please, Ta. Loe temen gue kan? Demi gue.”
Neta tidak menghiraukan permohonan Lika. Kali ini setengah berlari ia menolak. Tak tega tapi, mau bagai mana lagi jam pertama sebentar lagi. Di hari pertama pelajaran baru pula.
Kali ini Lika menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil. Kebiasaannya kalau sudah terlalu kesal. Neta sampai harus berbalik dan menyeret temannya itu. Sayangnya tubuh Neta yang mungil langsung terjelembab ke lantai kalah akan badan Lika yang memang agak besar. Lika menolak bergerak tadi mebuat Neta yang menariknya malah terpelanting karena yang menarik malah lebih kecil sedang yang ditarik malah balas menolak.
Rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya. Tangan kiri yang sempat digunakannya menopang diri malah terasa perih. Pantatnya yang tadi berdebam keras saat beradu dengan lantai nyeri sekali. Tapi semua itu langsung teralih saat dilihatnya telapak tangan yang terulur tepat di muka.
Tangan itu meraih tangan kanan Neta yang bebas. Kemudian perlahan menarik Neta banngun. Membuat Neta sejajar dengan penolongnya. Terlebih si penolong malah menariknya masuk dalam dekapan. Hangat, penuh perlindungan dan juga lembut itu lah yang Neta rasa sejenak.
Dua manik mata menatap Neta tampak khawatir. Seolah takut jatuh tadi berakibat fatal. Seulas senyum terkembang tampak lega. Senyum yang membentuk lesung pipi di wajah itu menambah pesona sang pemilik. Neta langsung melangkah mundur menjauh. Sedikit terhuyung nyaris jatuh, untung lagi-lagi penolong itu memegangi tubuh Neta.
“ Gak apa-apa kan, Ta? Mana yang sakit?”suara Lika berseru tertahan, merasa bersalah. Ia tadi juga terhuyung tapi tak sampai terjatuh. “ Eh, ma,,,,” ucapannya urung selesai menyadari siapa cowok yang menolong Neta, tadi karena begitu cepatnya si penolong langsung menghambur menuju Neta ia tak tahu bagaimana rupanya.
Lika membeku seketika. Matanya yang belo melotot seolah bisa keluar dari tempatnya. Seperti semua yang juga berada di sekitar mereka. Saking terkejutnya, tidak ada yang bicara bahkan malah menahan napas.
“Hello !”sapa si penolong itu riang. Neta terlonjak tak percaya.
Gadis itu mundur perlahan, menjauh sebisanya. Sosok itu masih di depannya. Tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih bersih yang rapi. Manik mata tajam berwarna coklat yang dinaungi alis mata tebal hitam yang kontras dengan wajahnya yang putih bersih. Tampan, ajektif itu langsung terpikir seketika. Apalagi senyum mengembang yang sekarang melekat pada wajah itu menambah keindahannya.
“Hello, Neta!”sapanya lagi.
Neta diam, si penolong masih menunggu jawaban. Kali ini tak hanya memberi senyuman, malah menaik turunkan alis seolah menggoda.
“ Hello, pangeran.”jawab Lika tanpa sadar.
****

“ Apa?”
Neta tidak tahan dilihat tanpa berkedip oleh dua bola mata belo teman disebelahnya. Sementara Lika yang ditanya malah makin mengamati tanpa henti. Dari ujung kepala ke ujung kaki dilihatnya bolak balik. Membuat Neta juga ikut mencoba mengamati diri sendiri. Baju seragam, masih putih bersih rapi karena telah disetrika. Roknya juga masih abu-abu. Sampai pandangan keduanya bertemu, Neta minta penjelsan setengah kesal. Sedang Lika mengeleng kemudian menghembusakan napas berat.
“ Kenapa?”tanya Neta makin bingung.
“ Gue tuh yang harusnya nanya gitu?”kata Lika enggak nyambung. Malah kembali mentapp Neta.
“ Ehhh,,, lho?”
“ Kenapa sih loe, Ta?”
“ Gue? Kok gue? ”
“ Iya, loe itu kenapa? Kenapa tadi ngabur gitu aja? Udah gitu narik gue seenaknya lagi.” Protes Lika
Neta cuma bisa meringis, menujukkan gigi putih yang rapi. Tak tahu harus bagai mana. Kalau dijawab dan jawabannya tak sesuai harapan Lika, bisa-bisa sahabatnya itu melumatnya. Mau dalam kelas, mau di lorong, atau dimana pun juga Lika tak perduli. Lika kembali mendesah benar-benar tak habis pikir.
Apa sih yang ada di dalam otak sahabatnya ini? Atau apa sih yang menghilangkan kepandaiannya? Mana ada cewek yang langsung kabur setelah ditolong pangeran. Mana ada cewek yang malah lari secepat kilat seolah habis melihat setan alih-alih sebenarnya cowok paling cakep seantero SMA Nusantara.
Kalo bukan gara-gara Neta, Lika kan bisa menikmati melihat pangeran dari dekat. Jarang-jarang, bahkan ini seperti mukjizat dari tuhan. Biasanya cuman bayangan sekelibat yang dapat ditangkap mata Lika.  
“ Kan udah masuk.”jawab Neta masih mengembangkan senyum.
“ Ihh, nyia-nyiain kesempatan tahu. Udah tahu susah ngedeketin si pangeran minta ampun. Malah ngabur. ”omel Lika.
“ Pelajaran pertama kan Bu Titah, Li. Mau disuruh nutup pintu dari luar? Gue mah ogah.”bantah Neta  berlindung di balik buku.
“ Pelajaran- pelajaran mulu, kan gue udah bilang pentingan pangeran Ta,”kata Lika sambil menarik buku di depan wajah Neta. “ Pelajaran itu bisa diulang, lha pangeran mana bisa.”
“ Kita udah kelas sebelas Li. Bentar lagi kelas duabelas. Apa loe mau ngulang pelajaran-pelajaran yang bahkan kalo ada gurunya juga kadang gak paham.”
“ Iya, iya, iya. Susah deh ngobrol sama orang gila belajar kayak loe. Seneng amat sih sama belajar. Si Amat aja kagak.”
“ Karena Amat senengnya sama loe.”
Mata lika yang sebelumnya mengemati Neta langsung beralih ke sudut ruang kelas. Di sana seorang cowok tengah melakukan pembersihan diri, alias megulik-ulik lubang hidung lalu seenaknya saja di lempar ke udara. Membuat Lika langsung mengeleng-geleng dan reflek memegangi hidungnya. Si Amat ynag sepertinya sadar diamati mengembangkan senyum lebar, lalu melemparkan cium jauh. Lika mual seketika.
 Neta menghela napas lega. Tidak lagi dipandang terang-terangan meski ia tahu beberapa mata juga menatapnya penuh tanya. Cuma Lika yang berani atau lebih tepatnya cuma Lika yang punya kesempatan bertanya. Karena cuma Lika yang dekat dengannya.
Neta jadi tak perlu mengarang cerita. Ataupun menceritakan kenapa, karena tidak akan ada yang percaya pula. Tidak perlu pura-pura menerka juga karena dia tahu. Dia tahu pasti kenapa. Kenapa pangeran menolongnya?
****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar