Neta
kira dirinya bisa melewati hari ini tanpa terkagum-kagum. Tapi bahkan meski
telah lebih dari tiga ratus enam puluh lima hari sejak pertama kali melihat
dia, Neta masih saja ikut terpesona. Untungnya tidak seperti gadis-gadis yang tak jauh darinya, Neta dapat mencegah
mulutnya ikut berteriak histeris agar dapat perhatian.
Pesona
yang membekukanlah yang langsung menimpa Neta. Ia tidak dapat mengalihkan
pandangan. Tak sadar sampai tiba-tiba dirasanya sesuatu membentur bahunya
keras. Atau lebih tepatnya seseorang yang membenturnya.
“
Ati - ati donk.” Bentak gadis yang tadi menabrak Neta.
Neta
menundukkan muka, setengah menahan sakit. “ Maaf, ”katanya lirih.
“
Makanya tuh mata jangan digunain buat baca doank.”jawab gadis itu sinis.
Neta
mengangguk.
“
Atau karena kebanyakan baca tuh mata jadi mines kali.”timpal gadis lain.
“
Yah, mau nyamain guru favoritnya kali. Si Pak Nyoman.”kata gadis yang tadi
menabrak Neta. “ Ya kan, Reneta?”
“
Nilai aja bagus yang lainnya mah standart, atau malah tiarap.” ejek si gadis
lagi.
Neta
hanya makin menundukan wajah. Ia tidak tahu menjawab apa.
Tahu-tahu
seseoranng telah menarik tangannya,
mengenggam erat dan menarik Neta mejauh sekitar dua meter dari dua gadis yang
memandang tak suka. Kalau pandangan bisa
membunuh mungkin pandangan seperti itulah yanng dimaksud. Lika tidak
mengendurkan pegangannya. Neta menghembuskan napas lega.
“
Yah, pangerannya udah terlanjur lewat kan! Gara-gara elo nih, Ta. ”protes Lika
kecewa, tidak lagi berjinjit atau melompat.
Tadi
mereka memang jadi dapat tempat yang enggak enak untuk memandang. Dibagian
barat yang lagi panas-panasnya kena matahari, udah begitu dibelakang pula.
Alhasil cuma sekilas, itu pun sekelibat bayangan dan bagian rambut pangeran
yang hari ini bergaya spike. Wajah pangeran tampan tak sama sekali terlihat
gara-gara siswi di depan yang seperti tembok. Kalau mau maksa nyempil akhirnya
malah bisa-bisa jadi korban. Badan Lika bisa-bisa tidak dapat ditarik dan
nyempil di sana sampai bubar.
“ Maaf .... ”ucap Neta lirih.
“
Harus!”sahut Lika setengah berteriak.
Beberapa
sisiwi langsung melirik mereka terganggu. Senyum Lika terkembang tanda
permintaan maaf. Lalu Ia kembali menarik Neta ke sudut, merapat ke tembok
menjauh dari tembok manusia yang mulai berkurang. Malah sekarang hanya beberapa
yang masih ada.
“Makanya buat hukuman loe harus nemenin
gue,”ujar Lika berbisik.“Entar pulang sekolah kita stalker pangeran yuk!
Sttt,,, katanya dia hari ini mau nongkrong di caffe deket sini. Itu,,, tuh,,,
yang di ujung gang sono. ”omel Lika setengah memaksa.
“
Tapi, gue ada les, Li. ”protes Neta cepat.
“
Bolos sekali aja. Sekali ini kok, Ta. Please! Gak akan bikin hidup loe ancur
ampe jungkir balik. ”paksa Lika. Lalu pasang tampang memelas ala pus in boot.
“
Nilai fisika gue yang jungkir balik jadi enam.”kata Neta setengah menahan tawa.
Karena sahabatnya itu punya mata, yang besar jadi bukanya tampak lucu yang ada
malah tampak melotot pada Neta.
“
Pangeran sama fisika pentingan pangeran, Ta.”kata Lika agak kesal.
Neta
baisa saja dapat nilai delapan dalam ulangan fisika tanpa les. Dibanding
dirinya yang sempat nekat membakar kertas catatan fisika ditengah malam buta,
lalu dilarutkan dalam air minum pun nilai Neta masih lebih bagus. Masih kurang
saja?
“
Hubungannya apaan?”tanya Neta tidak mengerti
“Pinter-pinter
o’on nih anak,”ejek Lika sambil memutar bola mata, “Ini soal rasa, R-A-S-A.
Kita harus perjuangin rasa kita buat pangeran. Lha, dalam perjuangan ini kita
harus lakuin serangan fajar. Bukannya diem dan cuma liat dari jauh.”lanjutnya
seolah menerangkan pada anak sekolah dasar.
Neta
tersenyum. “ Kayak mau perang aja, Li.”
“
Ini emang perang,”seru Lika sembari mengguncang bahu Neta. “Kalo gak pake
serangan fajar dan serentak kesempatan gak akan keraih. Dan akhirnya hilang
gitu aja.”
“
Kesempatan apa sih?”tanya Neta mencoba mengerti maksud teman sebangkunya ini.
“
Kesempatan deket sama pangeran. Selama ini kita cuma bisa ngelihat. Udah segitu
doank. Gak ada kemajuan yang ada malah kemunduran,”keluh lika sambil menarik
napas. “Jadi kita harus bikin kesempatan itu.”
“
Kita? Loe doang kali”protes Neta tegas.
Kalo
bukan karena Lika dari awal Neta memilih duduk di bangkunya yang nyaman. Tak
perlu berdesakan terdorong ke sana ke mari cuma untuk melihat seseorang. Selain
itu juga tidak perlu berlarian saat si panngeran itu lewat depan gerbang sedang
kelasnya ada di sudut lain yang butuh ditempuh dengan jurus kaki seribu.
Yang
diprotes malah tidak perduli.
“
Kesempatan itu jangan ditunggu aja. Kita harus usaha buat dapetin, bahkan
setidaknya bikin sedikit kesempatan itu ada. Eh, tumben gue kayak pemberi
semangat gitu. Apa bahasa inggrisnya?”kata Lika bersemangat.
“
Motifator.”jawab Neta masih melihat ke gerbang.
“
Ya,,,ya,,,ya,,, seenggaknya kita lebih maju dibanding tuh cewek-cewek. Bisa deh
dapetin pangeran.”
“
Bukannya pangeran sama Lady ya?”tanya Neta setelah melihat seorag gadis yang
sekarang menajdi pusat perhatian di gerbang.
Meski
dari jauh Neta bisa melihat beberapa siswa mencoba menggoda gadis itu. Si gadis
hanya tersenyum sambil sesekali menyapa. Di belakangnya tiga orang gadis lain
mengikuti tak kalah anggun. Benar-benar tampak seperti barisan dayang yanng
tengah mengantar sang putri.
“
Nggak lagi, Ladynya aja tuh yang sering nempel pangeran.”cibir Lika
“
Cocok kok.” Kata Neta langsung dibalas pelototan mata Lika.
“
Issssh,,, loe saking kecewanya sampe ikut dukung Lady ya?” protes Lika. “Lady
itu gak ada hubungan sama pangeran. Emang sih mereka udah temenan dari SMP,
tapi ya gitu doang cuma ngobrol, hang out, dan enggak sampe nge-date.” jelasnya
kemudian.
“
Oh ya?”
“
Menurut info yang gue dapet, dari dulu pangeran itu emang gak pernah pacaran.
Pangeran itu sulit banget di deketin.”beber Lika ala detektif.
“Masa?”
“Loe
tau sendiri, penghalang pertama tembok manusia yang bejubel itu terus bertambah
tiap hari. Cewek-cewek itu bisa lebih galak daripada herder, gak perduli temen
atau bukan bisa diserang. Terus ngelewatin tembok manusia juga belum dibilang
hebat. Itu mah levelnya masih cetek. Abis cewek-cewek itu ada body guardnya eh,
itu tuh si Bangga sama Alde. Dua cowok itu ujian yang emmm, dibilang sulit tapi
juga mempesona. Intinya mereka baru level siaga. Setelah dua cowok itu baru
yang namanya level bencana,”kata Lika dengan tampang horor. “Tuh tiga dayang
Lady emang cantik tapi sadisnya minta ampun. Gak bisa selamet ngelewatin
gerbang. ”
“
Dayang sadis? Elok, Hany sama Ane? Terus ngapain loe tetep nekat?”
“
Yuppy. Neta sayang, cinta itu harus diperjuangin. Ladynya aja sportif kok,
dayang-dayangnya aja yang lebay. Saking gak punya harapan kali ya? Mereka kan
sebelumnya juga fans Pangeran.”Duga Lika.
“
Kok bisa jadi temen Lady?”
“
Jadi ya, mereka dulu itu juga masuk barisan tembok manusianya pangeran. Malah
selalu yang terdepan. Lha, sejak Lady temenan sama mereka, baru mereka bisa deket
sama pangeran. Tapi, ya seperti gue bilang sebelumnya pangeran itu gak perduli
alias cuek. Kecewa jadi deh ngelampiasin sama yang lain, kecuali sama Lady.
Soalnya Lady baik sama mereka.”
“
Lady baik banget yah.”
“
Ya sih, dia masih bantu yang lain juga meski keliatan banget kalo suka sama
Pangeran. Ah bodo amat. Kita harus perjuangin pokoknya. It’s fair play.”
“
Loe aja sana. Gue ada les.”tolak Neta
TENG....
TONG....TING....TING.....TEEETT....
Deru
bel mengema membuat barisan yang tadi seperti semut bubar seketika. Tidak
kecuali Neta yang juga bergerak turun melalui tangga meninggalkan Lika yang
memasang wajah masam.
“
Ayo lah, Ta.” pinta Lika lagi. Masih mencoba membujuk Neta. Tetapi yang
didapatinya hanya gelengan dari Neta. “ Please, Ta. Loe temen gue kan? Demi
gue.”
Neta
tidak menghiraukan permohonan Lika. Kali ini setengah berlari ia menolak. Tak
tega tapi, mau bagai mana lagi jam pertama sebentar lagi. Di hari pertama
pelajaran baru pula.
Kali
ini Lika menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil. Kebiasaannya kalau
sudah terlalu kesal. Neta sampai harus berbalik dan menyeret temannya itu.
Sayangnya tubuh Neta yang mungil langsung terjelembab ke lantai kalah akan
badan Lika yang memang agak besar. Lika menolak bergerak tadi mebuat Neta yang
menariknya malah terpelanting karena yang menarik malah lebih kecil sedang yang
ditarik malah balas menolak.
Rasa
sakit menjalar keseluruh tubuhnya. Tangan kiri yang sempat digunakannya
menopang diri malah terasa perih. Pantatnya yang tadi berdebam keras saat beradu
dengan lantai nyeri sekali. Tapi semua itu langsung teralih saat dilihatnya
telapak tangan yang terulur tepat di muka.
Tangan
itu meraih tangan kanan Neta yang bebas. Kemudian perlahan menarik Neta
banngun. Membuat Neta sejajar dengan penolongnya. Terlebih si penolong malah
menariknya masuk dalam dekapan. Hangat, penuh perlindungan dan juga lembut itu
lah yang Neta rasa sejenak.
Dua
manik mata menatap Neta tampak khawatir. Seolah takut jatuh tadi berakibat
fatal. Seulas senyum terkembang tampak lega. Senyum yang membentuk lesung pipi
di wajah itu menambah pesona sang pemilik. Neta langsung melangkah mundur
menjauh. Sedikit terhuyung nyaris jatuh, untung lagi-lagi penolong itu
memegangi tubuh Neta.
“
Gak apa-apa kan, Ta? Mana yang sakit?”suara Lika berseru tertahan, merasa
bersalah. Ia tadi juga terhuyung tapi tak sampai terjatuh. “ Eh, ma,,,,”
ucapannya urung selesai menyadari siapa cowok yang menolong Neta, tadi karena
begitu cepatnya si penolong langsung menghambur menuju Neta ia tak tahu
bagaimana rupanya.
Lika
membeku seketika. Matanya yang belo melotot seolah bisa keluar dari tempatnya.
Seperti semua yang juga berada di sekitar mereka. Saking terkejutnya, tidak ada
yang bicara bahkan malah menahan napas.
“Hello
!”sapa si penolong itu riang. Neta terlonjak tak percaya.
Gadis
itu mundur perlahan, menjauh sebisanya. Sosok itu masih di depannya. Tersenyum
memperlihatkan deretan gigi putih bersih yang rapi. Manik mata tajam berwarna
coklat yang dinaungi alis mata tebal hitam yang kontras dengan wajahnya yang
putih bersih. Tampan, ajektif itu langsung terpikir seketika. Apalagi senyum
mengembang yang sekarang melekat pada wajah itu menambah keindahannya.
“Hello,
Neta!”sapanya lagi.
Neta
diam, si penolong masih menunggu jawaban. Kali ini tak hanya memberi senyuman,
malah menaik turunkan alis seolah menggoda.
“
Hello, pangeran.”jawab Lika tanpa sadar.
****
“
Apa?”
Neta
tidak tahan dilihat tanpa berkedip oleh dua bola mata belo teman disebelahnya.
Sementara Lika yang ditanya malah makin mengamati tanpa henti. Dari ujung
kepala ke ujung kaki dilihatnya bolak balik. Membuat Neta juga ikut mencoba
mengamati diri sendiri. Baju seragam, masih putih bersih rapi karena telah
disetrika. Roknya juga masih abu-abu. Sampai pandangan keduanya bertemu, Neta
minta penjelsan setengah kesal. Sedang Lika mengeleng kemudian menghembusakan
napas berat.
“
Kenapa?”tanya Neta makin bingung.
“
Gue tuh yang harusnya nanya gitu?”kata Lika enggak nyambung. Malah kembali
mentapp Neta.
“
Ehhh,,, lho?”
“
Kenapa sih loe, Ta?”
“
Gue? Kok gue? ”
“
Iya, loe itu kenapa? Kenapa tadi ngabur gitu aja? Udah gitu narik gue seenaknya
lagi.” Protes Lika
Neta
cuma bisa meringis, menujukkan gigi putih yang rapi. Tak tahu harus bagai mana.
Kalau dijawab dan jawabannya tak sesuai harapan Lika, bisa-bisa sahabatnya itu
melumatnya. Mau dalam kelas, mau di lorong, atau dimana pun juga Lika tak
perduli. Lika kembali mendesah benar-benar tak habis pikir.
Apa
sih yang ada di dalam otak sahabatnya ini? Atau apa sih yang menghilangkan
kepandaiannya? Mana ada cewek yang langsung kabur setelah ditolong pangeran.
Mana ada cewek yang malah lari secepat kilat seolah habis melihat setan
alih-alih sebenarnya cowok paling cakep seantero SMA Nusantara.
Kalo
bukan gara-gara Neta, Lika kan bisa menikmati melihat pangeran dari dekat.
Jarang-jarang, bahkan ini seperti mukjizat dari tuhan. Biasanya cuman bayangan
sekelibat yang dapat ditangkap mata Lika.
“
Kan udah masuk.”jawab Neta masih mengembangkan senyum.
“
Ihh, nyia-nyiain kesempatan tahu. Udah tahu susah ngedeketin si pangeran minta
ampun. Malah ngabur. ”omel Lika.
“
Pelajaran pertama kan Bu Titah, Li. Mau disuruh nutup pintu dari luar? Gue mah
ogah.”bantah Neta berlindung di balik
buku.
“
Pelajaran- pelajaran mulu, kan gue udah bilang pentingan pangeran Ta,”kata Lika
sambil menarik buku di depan wajah Neta. “ Pelajaran itu bisa diulang, lha
pangeran mana bisa.”
“
Kita udah kelas sebelas Li. Bentar lagi kelas duabelas. Apa loe mau ngulang
pelajaran-pelajaran yang bahkan kalo ada gurunya juga kadang gak paham.”
“
Iya, iya, iya. Susah deh ngobrol sama orang gila belajar kayak loe. Seneng amat
sih sama belajar. Si Amat aja kagak.”
“
Karena Amat senengnya sama loe.”
Mata
lika yang sebelumnya mengemati Neta langsung beralih ke sudut ruang kelas. Di
sana seorang cowok tengah melakukan pembersihan diri, alias megulik-ulik lubang
hidung lalu seenaknya saja di lempar ke udara. Membuat Lika langsung
mengeleng-geleng dan reflek memegangi hidungnya. Si Amat ynag sepertinya sadar
diamati mengembangkan senyum lebar, lalu melemparkan cium jauh. Lika mual
seketika.
Neta menghela napas lega. Tidak lagi dipandang
terang-terangan meski ia tahu beberapa mata juga menatapnya penuh tanya. Cuma
Lika yang berani atau lebih tepatnya cuma Lika yang punya kesempatan bertanya.
Karena cuma Lika yang dekat dengannya.
Neta
jadi tak perlu mengarang cerita. Ataupun menceritakan kenapa, karena tidak akan
ada yang percaya pula. Tidak perlu pura-pura menerka juga karena dia tahu. Dia
tahu pasti kenapa. Kenapa pangeran menolongnya?
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar