Rabu, 23 Juli 2014

Sampai Lebaran

Hari ini hari ke-5 sebelum lebaran.
Setahun lalu dihari ini aku masih dirundung mendung. Aku ingat hari itu aku masih mencoba menerima. Karena memang hanya itu yang harus dilakukan. Meski rasanya sulit sekali. Toh, waktu terus berjalan. Jarum jam berputar, detik demi detik berganti menjadi menit lalu jam.

Aku ingat betul lima hari sebelum hari itu, aku masih dibangunkan untuk bersahur. Masih berlomba dengan matahari sahabis shalat. Tapi malamku tidak sama seperti hari-hari yang lain.

Malam itu malam yang dingin sekaligus perih.

 Aku mendapati tubuh kaku dihadapanku. Setelah disorientasi karena masih tidak mengerti kenapa orang-orang disekitarku tampak panik dan terkejut. Setengah sadar dari tidur aku mencoba mengerti. Ketakutanku menjelma jadi nyata.

" Sampai lebaran ya, Pak?"pintaku sembari berbaring di sebelahnya.
Pria tua itu mengeleng kan kepala kuat-kuat. Namun kemudian mengganguk sebelum sempat aku menyuarakan protes.
" Aku itu besok lusa udah libur, jadi bisa nemenin bapak."kataku lagi.
Beliau diam.

Tapi, apa mau dinyana. Sepuluh hari sebelum lebaran Bapak malah pergi. Beliau pulang kehadirat Allah S.W.T. Tidak lagi menunggu sampai lebaran seperti pintaku.

Hari itu bapak memang tidak banyak bicara. Tidak seperti sebelum-sebelumnya bapak tidak memarahiku saat aku nakal. Bapak tidak berteriak mengingatkanku kalau aku sudah keterlaluan. Beliau hanya sempat menenangkanku saat kesal dan sedih.

Beliau itu meski galaknya bukan main padaku tapi juga sayang padaku. Beliau menjagaku saat aku keccil ditinggal ibu bertugas. Beliau menggambilkan makan ketika aku mencarinya sampai sawah saat pulang sekolah. Beliau selalu menungguku di pos kamling depan rumah sampai senja datang saat aku pulang terlambat.

Beliau ayahku yang sederhana.

Yang menghabiskan hampir setahun hidupnya diranjang dengan berbaring. Namun masih berusaha menjalankan ibadahnya. Beliau yang sempat tertawa meski sakit karena jatuh. Beliau yang jadi alasanku cepat pulang. Beliau yang menjadi alasanku bertahan seberat apapun.

Beliau yang pergi tanpa sempat aku beri.

Dipenghujung hari aku mengantarnya sampai mesjid, tak berani ke pembaringan. Karena sempat ku harap itu hanya mimpi. Dan beliau hanya sekedar tertidur.

Tapi kenyataan tiada dapat ditolak.

Kini tiada lagi ayah yang mengantar aku pergi meski beliau harus merangkak atau lebih tepatnya mengesot. Ayah tidak lagi akan berkata ' Sudah pulang?' setelah menjawab salamku.

Kehilangan ini meski menyakitkan namun melegakan. Beliau tidak lagi kesakitan. Dan telah tenang di sana.




Selasa, 22 Juli 2014

Hello!

Namaku Hoshino Nami. Sebenernya nama ini enggak cocok sama sekali dengan aku. Heheheheheh
Bisa dibilang jauh banget!! Kalo orang jepang atau kamu, kalian yang tahu artinya pasti mengganggap aku ini tinggi seperti ombak atau bintang ( Nami berarti ombak dalam bahasa jepang sedang Hoshi berarti bintang). Tapi, aku ini pada kenyataanya tidak begitu. Em, apa ya?? Kalo aku sih menyebutnya kurang tinggi, tapi kebanyakan orang bilang aku ini p-e-d-e-k. Umm, gak masalah sebenernya. Cuman kalo kamu berada dalam lingkunganku yang kebanyakan orang standart tingginya ala model gitu, aku ini masuk dalam golongan Hobitt. Ya, sejenis lah sama kurcacinya Cinderella.

* Nangis dipojokan

Tapi bukan karena itu aku diberi nama Nami oleh si Omm. Yuph, Nami atau Hoshino itu bukan nama dalam akte lahirku, melainkan nama yang diberi sama Omm- a.k sahabatku. (Makasih Lho)

Sebenernya sempet langsung melotot ala sinetron jadul yang efeknya itu zoom-in zoom out. Cuma, emang aku yang minta dia nyariin nama jepang buat aku. Dan jadilah, Hoshino Nami.

Alasannya, bukan karena aku kurang tinggi dan biar nambah tinggi di kasih nama itu. Melainkan karena waktu itu aku ngelaang temenku yang lain pergi dengan ngunci dia ala smacdown. Kemudian temenku yang padahal badannya lebih besardari aku itu menyerah. YEAY!!! I'M THE WINER

*ketawajahat. HWAHAHAHAHAHA

Dan akhirnya si Omm memutuskan namaku. Sebab aku tuh kayak ombak yang meski kecil terus ngegulung ke pantai dan mengigikis karang yang lebih besar dan tampak kuat.

Horeeeeeeeee.

So, bagaimanapun kita pasti ada hal yang baik meski kelihatannya gak mungkin. Semua hal dapat terjadi kan?? Aku bukannya p-e-n-d-e-k tapi cuman kurang tinggi, tetep ada kata tingginya lhoo. ^^

Aku dan Kamu





Jangan,,,jangan lihat aku begitu!!! Hei, aku belum mati tahu. Kenapa pula kau disini? Pasti Vrea. Anak itu harus di beri pelajaran, mana dia? Mana anak itu?!!Sial!! Apa kenapa dengan ku. Hei berhenti tertawa. Vrea pasti kuhajar setelah ini. Liat aja, aku mau marah. 
 
Ya, aku bisa tahu seperti saat itu saat dia berkata padaku “Meski kau kurung burung itu dalam sangkar emas sekalipun, ia tetapkan terbang juga.Tapi dia bisa merentangkan sayap ke sana ke mari bukan?”

Percakapan setahun lalu itu kembali terputar dalam memory otakku. Kata demi kata terus terngiang di telinga. Entah apa Vrea mempunyai guna-guna yang membuatnya begitu,atau hanya pikiranku yang terlalu keras memikirkan kalimat itu. Pertengkaran kami juga telah usai. Memang butuh waktu sekian lama sampai dia benar-benar pasrah. Membiarkanku dengan keteguhanku. Padahal sebelumnya tak pernah begitu. Kami bahkan tak pernah sampai berpisah. Kami sangat dekat, seperti saudara. Kalau dipikir-pikir pertengkaran itu sepele. Sebuah pertengkaran yang harusnya tak terjadi. Pertengkaran karena sahabatku tidak mau aku terluka.

Aku memang tak pernah terluka. Bahkan sangat bahagia. Dia bukanlah ibu atau ayahku yang dapat mengaturku semaunya. Benar-benar membuatku kesal setengah hidup karenanya!! Sampai beberapa kata tak pantas terucap dari mulut ini. Membuatnya tertunduk lesu,kemudian meninggalkanku dalam diam. Untung itu telah berlalu. Kau mau tahu tidak? Pertengkaran itu kenapa? Itu karena mu. Iya kamu. Kamulah penyebabnya. Lebih tepatnya karena aku terus menerus mengikutimu. Memujamu meski kau tak perduli. Meski hanya sebuah senyum tanpa arti yang kau beri.

Ia lelah sepertinya. Lelah melihat tingkahku yang berubah manja di hadapan mu. Mendengar bibirku tanpa henti memuji dan menyebut namamu. Seperti radio rusak yang terus menerus memutar lagu yang sama tanpa akhir. Karena aku juga tak ingin berhenti memanggilmu. Katanya aku seperti orang gila saja. Betapa tidak, ketika tak ku temukan sosokmu aku terus mencari ke sana ke mari.

Lalu saat menemukan kau, tiada luntur senyum mengembang di wajahku. Ya, aku telah gila. Gila karenamu. Tergila-gila tepatnya. Entah sejak kapan bermula sampai begitu parah aku pun tidak tahu. Yang ku tahu, kegilaan itu semakin menjadi. Berkembang dari hari ke hari. Membuatku asing di mata Vrea. Mengubah setiap centi dari diri ku sendiri. Menjadikan aku bukan sebagai pribadiku. Mati-matian belajar hanya untuk masuk dalam fakultas yang sama denganmu. Fakultas yang sebenarnya jauh dari kemampuan otakku. Lalu setelahnya menghujanimu dengan segala pertanyaan. Pertanyaan yang ku jadikan alasan untuk lebi dekat dengan mu. Dan saat ku rasa semakin dapat meraih mu. Ternyata tak begitu, tidak membuat mu melihatku barang sekilas.

Dirimu lebih memilih ia. Seorang yang kau temui dalam perjalanan mu. Seorang gadis baik yang dapat langsung membuatmu memilihnya. Dan melupakanku yang masih menantimu. Seorang yang lebih dulu ada di hadapan mu.

Seketika ku sadari aku tlah salah. Aku telah bersalah pada sahabatku. Karena vrea mulai benar. Aku terluka, luka yang begitu dalam. Terluka karena keputusanmu. Dapat kurasakan rasaku menyiksa diri ini. Akan fikiranku yang tidak ingin melepasmu dari anganku. Angan yang telah membuai ku lenyap seketika. Harapan musnah begitu saja. Tumpah bersama air mata yang tak dapat ku bendung. Aku terhempas dalam sendiri. Kembali pada obat-obat yang dari kelahiran ku sampai kini menopangku. Menambah waktu hidup ku barang sedetik. Kau pasti tak sadar bukan?

Aku sakit, sakit yang mengharuskan ku setiap bulan menuju rumah sakit. Setiap jam-jam tertentu mengkonsumsi obat itu. Atau menghabiskan seluruh waktu liburan hanya untuk melakukan beberapa tes. Aku lelah,lelah akan semua itu. Sampai ku dapati engkau. Engkau yang waktu lalu menjadi alasanku tuk menambah umurku meski hanya sehari. Menjalani semua agar cepat usai kemudian menemuimu.

Namun, semua telah berlalu. Tak dapat lagi ku ulang. Semua telah usai.
Tak pantaskah si penyakitan ini di sisi mu? Merasakan pula dicintai oleh mu. Mendapat hatimu pun tak mampu ku raih. Sampai dalam pembaringan terakhirpun kau tak pernah datang untukku. 

****

Hei this's my blog wellcome and let be friends!