Selasa, 22 Juli 2014

Aku dan Kamu





Jangan,,,jangan lihat aku begitu!!! Hei, aku belum mati tahu. Kenapa pula kau disini? Pasti Vrea. Anak itu harus di beri pelajaran, mana dia? Mana anak itu?!!Sial!! Apa kenapa dengan ku. Hei berhenti tertawa. Vrea pasti kuhajar setelah ini. Liat aja, aku mau marah. 
 
Ya, aku bisa tahu seperti saat itu saat dia berkata padaku “Meski kau kurung burung itu dalam sangkar emas sekalipun, ia tetapkan terbang juga.Tapi dia bisa merentangkan sayap ke sana ke mari bukan?”

Percakapan setahun lalu itu kembali terputar dalam memory otakku. Kata demi kata terus terngiang di telinga. Entah apa Vrea mempunyai guna-guna yang membuatnya begitu,atau hanya pikiranku yang terlalu keras memikirkan kalimat itu. Pertengkaran kami juga telah usai. Memang butuh waktu sekian lama sampai dia benar-benar pasrah. Membiarkanku dengan keteguhanku. Padahal sebelumnya tak pernah begitu. Kami bahkan tak pernah sampai berpisah. Kami sangat dekat, seperti saudara. Kalau dipikir-pikir pertengkaran itu sepele. Sebuah pertengkaran yang harusnya tak terjadi. Pertengkaran karena sahabatku tidak mau aku terluka.

Aku memang tak pernah terluka. Bahkan sangat bahagia. Dia bukanlah ibu atau ayahku yang dapat mengaturku semaunya. Benar-benar membuatku kesal setengah hidup karenanya!! Sampai beberapa kata tak pantas terucap dari mulut ini. Membuatnya tertunduk lesu,kemudian meninggalkanku dalam diam. Untung itu telah berlalu. Kau mau tahu tidak? Pertengkaran itu kenapa? Itu karena mu. Iya kamu. Kamulah penyebabnya. Lebih tepatnya karena aku terus menerus mengikutimu. Memujamu meski kau tak perduli. Meski hanya sebuah senyum tanpa arti yang kau beri.

Ia lelah sepertinya. Lelah melihat tingkahku yang berubah manja di hadapan mu. Mendengar bibirku tanpa henti memuji dan menyebut namamu. Seperti radio rusak yang terus menerus memutar lagu yang sama tanpa akhir. Karena aku juga tak ingin berhenti memanggilmu. Katanya aku seperti orang gila saja. Betapa tidak, ketika tak ku temukan sosokmu aku terus mencari ke sana ke mari.

Lalu saat menemukan kau, tiada luntur senyum mengembang di wajahku. Ya, aku telah gila. Gila karenamu. Tergila-gila tepatnya. Entah sejak kapan bermula sampai begitu parah aku pun tidak tahu. Yang ku tahu, kegilaan itu semakin menjadi. Berkembang dari hari ke hari. Membuatku asing di mata Vrea. Mengubah setiap centi dari diri ku sendiri. Menjadikan aku bukan sebagai pribadiku. Mati-matian belajar hanya untuk masuk dalam fakultas yang sama denganmu. Fakultas yang sebenarnya jauh dari kemampuan otakku. Lalu setelahnya menghujanimu dengan segala pertanyaan. Pertanyaan yang ku jadikan alasan untuk lebi dekat dengan mu. Dan saat ku rasa semakin dapat meraih mu. Ternyata tak begitu, tidak membuat mu melihatku barang sekilas.

Dirimu lebih memilih ia. Seorang yang kau temui dalam perjalanan mu. Seorang gadis baik yang dapat langsung membuatmu memilihnya. Dan melupakanku yang masih menantimu. Seorang yang lebih dulu ada di hadapan mu.

Seketika ku sadari aku tlah salah. Aku telah bersalah pada sahabatku. Karena vrea mulai benar. Aku terluka, luka yang begitu dalam. Terluka karena keputusanmu. Dapat kurasakan rasaku menyiksa diri ini. Akan fikiranku yang tidak ingin melepasmu dari anganku. Angan yang telah membuai ku lenyap seketika. Harapan musnah begitu saja. Tumpah bersama air mata yang tak dapat ku bendung. Aku terhempas dalam sendiri. Kembali pada obat-obat yang dari kelahiran ku sampai kini menopangku. Menambah waktu hidup ku barang sedetik. Kau pasti tak sadar bukan?

Aku sakit, sakit yang mengharuskan ku setiap bulan menuju rumah sakit. Setiap jam-jam tertentu mengkonsumsi obat itu. Atau menghabiskan seluruh waktu liburan hanya untuk melakukan beberapa tes. Aku lelah,lelah akan semua itu. Sampai ku dapati engkau. Engkau yang waktu lalu menjadi alasanku tuk menambah umurku meski hanya sehari. Menjalani semua agar cepat usai kemudian menemuimu.

Namun, semua telah berlalu. Tak dapat lagi ku ulang. Semua telah usai.
Tak pantaskah si penyakitan ini di sisi mu? Merasakan pula dicintai oleh mu. Mendapat hatimu pun tak mampu ku raih. Sampai dalam pembaringan terakhirpun kau tak pernah datang untukku. 

****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar