Sabtu, 25 Juli 2015

novel London



 LONDON
Judul        : London
Penulis      : Windry Ramadhina
Penerbit    : GagasMedia
Terbit        : 2013
Tebal        : X + 330 hal
ISBN        : 979-780-653-7

Untuk para pecinta hujan

Seperti apa yang disampaikan penulisnya saat mulai membaca, hujan yang dibawa kisah ini adalah sendu. Bukannya hujan deras yang membasahi bumi, namun menurutku hujan rintik yang memang romantis, tragis dan juga magis .
Kisah ini mengajak mengikuti Gilang menyusul gadisnya ke London. Setelah selama enam tahun memendam perasaan pada Ning-gadisnya. Lebih karena dorongan teman-temanya (yang menyiapkan segala keperluan ke London). Membawanya pada hal-hal yang tak pernah ia kira.
Sayangnya sesampai tiba di London Ning tak ada di rumah kosnya. Gadis itu pergi, membuat Gilang kehilangan semangat. Tapi, Gilang malah bertemu gadis lain di hadapan London Eye. Gadis itu menyihirnya kemudian hilang seusai hujan meninggalkan payung merah. Gadis yang dinamainya Goldilocks tanpa tahu siapa sebenarnya ia.
Padahal, Gilang hanya punya waktu lima hari di London. Akankah ia bertemu dengan Ning dan menyatakan perasaan? Siapa gadis ‘ Goldilocks’ itu sebenarnya?
Jadi, novel ini merupakan seri Setiap Tempat Punya Cerita GagasMedia dan Bukune. Awalnya berasal dari sebuah cerpen yang ditulis karena sebuah lagu dari L’Arc~en~Ciel berjudul “’Singin’ In the Rain’. Dan menurut beberapa sumber novel ini akan diangkat kelayar lebar lho. Selain itu, novel ini adalah salah satu novel favorit yang aku baca-sampe-itu-novel-hampir-rusak- berulang kali. -_-
Aku menyukainya karena ada unsur fantasi yang di masukkan dalam kisah ini. Meski tidak terlalu banyak, tapi unsur itu juga menjadi bagian penting. Bukan hanya sekedar tempelan.
Apalagi bukan hanya Gilang yang diceritakan dalam novel, ada lelaki dengan wajah bertopeng Guy Fawkes yang hampir bercerai, juga Mr. Lowesly serta Madam Ellis dengan persahabatan dan cinta terpendam.
Kisah yang sepenuhnya tentang cinta, romantis sekaligus tragis. Benar-benar membawa kesenduan tapi juga kesegaran. Apalagi novel ini menurutku berhasil membawa nuansa London deengan baik. Tidak berlebih membuat deskrepsi yang menjadi satu dengan cerita.
Meski cerita berjalan lambat dan buat aku geregetan sama Gilang yang kadang bisa semangat bannget eh, terus abis itu malah loyo. Padahal Gilang itu salah satu cowok yang bikin aku jatuh cinta. Seperti kata Hyde “ Lagian, gadis mana yang tidak luluh hatinya saat didatangi oleh lelaki yang menempuh ribuan kilometer cuma untuk menyatakan cinta?”-hal.27.
 Oh iya, meski novel ini enggak membawa ke Bigben, London Bridge, Oxford tapi mengenalkan sisi lain London. Seperti London Eye (yang langsung mengingatkan dengan kincir biang lala),Shakespeare’s Globe Theater, Tate Modern, dan Fitzrovia Lates. Ada seni dan sastra yang di satukan dalam sebuah kisah.
Kekurangannya mungkin cuma kutipan bahasa inggris panjang (bab 17 roman  klasik Jane Eyre karya Charlotte Bronte –hal 119 dan soneta 17 Pablo Neruda  -hal 120) yang bikin dahi berkerut soalnya bahasa inggris ku jelek. Hehehehehe
Sebelumnya sempat mengira ada salah ketik dari sibuk malah hibuk. Tapi ternyata menurut KBBI kata hibuk itu banyak pekerjaan; giat bekerja ; sibuk.
Ada beberapa kalimat yang aku sukai antara lain:
Perjalanan cinta sejati tidak pernah mulus –begitu kata Shakespeare. –hal56.
Di dunia nyata, tidak semua berakhir bahagia selama-lamanya. –hal 132.
“Kau harus mengatakannya segera. Jangan menunda. Jangan habiskan separuh hidupmu untuk menunggu waktu yang tepat. Seringnya, saat kau sadar, waktu yang tepat itu sudah lewat. Kalau sudah begitu, kau cuma bisa menyesal.” –hal 166
“Terkadang, kau merasa begitu dekat dengan mereka, tapi pada saat yang bersamaan, kau merasa begitu jauh.” –hal 205.
“Kau tidak belajar mencintai. Kau mencintai dengan sendirinya.” –hal 297
“Tidak ada yang terenggut. Setiap orang punya keajaiban cintanya sendiri. Ka hanya belum menemukannya.” –hal 320.
Yang paling kusuka dari kisah ini adalah endingnya. Juara,,, bikin saya geregetan,senyum-senyum gaje, tapi senang meski gantungggg,,,,,.
 Gara-gara ending itu dan sepanjang cerita Gilang membuat aku menstalk menunggu si penulis dan karya-karya lainnya. Juga sering menggangu bertanya pada kak Windry. Untungnya beliau ramah dan baik. Hehehehehehe
Ombak Bintang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar